Metropolitan

Korban Perantau dari Kediri hingga Jeratan Hukum Pelaku Fakta-fakta Ojek Pangkalan Peras Penumpang

Media sosial akhir akhir ini diramaikan dengan aksi ojek pangkalan (opang) memeras penumpangnya dari Terminal Kalideres menuju wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Tarif tak wajar diberlakukan opang. Tiga penumpang awalnya diminta Rp 250 ribu per orang.

Sehingga total Rp 750 ribu. Padahal, jarak dari Terminal Kalideres menuju Tanjung Duren kurang dari 10 kilometer bila dilihat dari aplikasi pengukur jarak. Setelah videonya viral, ketiga opang tersebut berhasil diamankan pihak kepolisian.

Berikut beberapa fakta kejadian tersebut: Aksi pemerasan yang dilakukan tukang ojekpangkalan (opang) terhadap penumpangnya viral di media sosial. Video berdurasi 5 menit 41 detik diunggah akun Instagram @undercover.id.

Dalam video tersebut memperlihatkan perdebatan antara pihak korban dengan tiga opang. Pihak korban tak terima lantaran merasa diperas dan ditipu oleh ketiga opang tersebut. Dalam unggahan tersebut, ada satu warganet bernama akun @kingrazerr memberikan konfirmasi kejadian tersebut.

Ia menyebut ada tujuh orang dari Kediri sebagai tenaga kerja baru yang turun di Terminal Kalideres. "Jadi begini, saya berangkatkan tim kerja, 7 orang dari Kediri tujuan Jakarta Tanjung Duren, via Bis Harapan Jaya turun Terminal Kalideres," tulisnya. Akan tetapi, tujuh orang terpisah menjadi dua bus, tiga orang dan empat orang.

Bus yang dinaiki tiga orang tiba lebih awal di Terminal Kalideres. Ternyata, mereka tidak terbiasa menggunakan transportasi online. "Karena gak biasa pesan taksi online sendiri, akhirnya mereka di tawarin ojek pangkalan ," tulisnya,

Penumpang sempat menanyakan ongkos ojek ke Tanjung Duren. Dalam video tersebut, perekam sempat menanyakan kepada para penumpang. Ia menanyakan mengapa tidak menyepakati harga di awal.

Kok gak deal disik? (Kok ga deal dulu?)," ucapnya. Ia menambahkan penumpang ojek langsung dibawa oleh para opang. "Langsung ditumpakne (dinaikkan), langsung digawa (dibawa), nggak papa nanti buat laporan bos," ucap perekam video.

Sementara itu akun @kingrazerr juga memberi keterangan penumpang salah memahami. "Pak ojeknya jawab '25', yang dipikir temen temen itu Rp 25 ribu karena jarak nya cukup dekat. Ternyata sampai tujuan, pak ojeknya minta Rp 250 ribu per orang, jadi 3 orang Rp 750 ribu," ungkapnya. Dilansir video tersebut, setelah beberapa menit perekam melayangkan protes keberatan, akhirnya disepakati pembayaran Rp 450 ribu untuk tiga orang.

"Kalideres ke sini, satu orang Rp 150 ribu, tiga orang Rp 450 ribu. Okelah gapapa kita bayar. Awalnya diminta dua setengah (Rp 250 ribu), oke kita bayar," ucap perekam video. Setelah disepakati harga Rp 450 ribu, uang yang dikumpulkan ternyata hanya Rp 350 ribu. Saat hendak diberikan ke ojek pangkalan, satu diantara tukang ojek meminta untuk mencari kekurangan uang.

Tukang ojek pun mendapati seorang penumpang menyimpan uang di soft case atau karet pelindung ponselnya. "Itu di HP tadi ada?" ucap tukang ojek sambil meminta penumpang mengeluarkan ponsel. "Buat makan apa Pak?" ucap penumpang.

Wis kekno, engko tak ijolane (sudah berikan saja, nanti saya ganti), bener bener, Ya Allah," ujar perekam video. Setelah video tersebut viral di media sosial, tiga tukang ojekpangkalan (opang) berhasil diringkus pihak kepolisian. Ketiga pelaku diamankan petugas gabungan dari Polsek TanjungDuren dan Polsek Kalideres.

Ketiga tukang ojek yang ditangkap polisi adalah S (44), AL (48), dan M (46). Kanit Reskrim Polsek TanjungDuren, AKP Mubarak, mengatakan ketiga pelaku ditangkap di kediamannya masing masing. Setelah diamankan, ketiga opang dibawa ke Pospol Terminal Kalideres sebelum dibawa ke Mapolsek TanjungDuren.

"Berbekal video yang viral itu, pelaku kami amankan tanpa perlawanan di kediamannya masing masing," kata Mubarak ditemui di Terminal Kalideres, Jumat (21/2/2020), dilansir . Tidak hanya tukang ojek, polisi turut mengamankan tiga motor ketiganya yang dilakukan saat mengantarkan ketiga penumpangnya. Dilansir , tidak ada perlawanan dari pelaku.

"Kami masih mintai keterangan ketiganya," kata Mubarak. Mubarak menyebut akan mendalami motif mematok harga tinggi. "Karena saat ini banyak masyarakat menggunakan jasa Ojol. Jadi dia nyari untung dengan cara seperti ini. Tapi itu masih kami dalami lagi," kata Mubarak.

Madi (60), pembina opang yang terdata di Terminal Kalideres memastikan tak mengenal ketiga opang yang memeras penumpangnya sampai Rp 750 ribu itu. "Saya disini sudah puluhan tahun dan enggak kenal sama wajah mereka. Mereka itu opang liar yang ambil penumpang di luar terminal, bukan resmi mangkal disini," kata Madi, Jumat. Madi lantas menunjukan kartu keanggotan bertuliskan Opang Sigatan yang merupakan bukti dirinya opang yang terdata di Terminal Kalideres.

Di kartu anggota Opang Sigatan itu, menampilkan pas foto serta nama Madi dengan masa berlaku hingga Juni 2020. Disebutkan Madi, terdapat sekitar 30 opang resmi di Terminal Kalideres. "Dan kita (yang terdata) enggak pernah nembak harga apalagi sampai meres karena kita cari uang disini," kata Madi.

Sementara itu Kapospol Terminal Kalideres, Ipda Tugiran mengungkapkan hal sama. "Kalau (opang) yang terdata itu saya hafal semua mukanya. Mereka punya kartu anggota dan malah ikut bantu jaga keamanan disini. Tadi saya juga sudah nonton videonya dan dipastikan bukan yang mangkal disini," kata Tugiran. Sementara itu kasus yang dilakukan tukang ojek pangkalan ini dapat termasuk tindak pemerasan.

Menguntungkan diri sendiri dengan cara mengancam agar korban takut dan mengikuti keinginan pelaku. Dilansir , tindak pidana pemerasan dan pengancaman sendiri sudahada dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) diatur pada Bab XXIII, Pasal 368 sampai dengan Pasal 371. Perbuatan pemerasan dengan ancaman kekerasan tersebut, sebagaimana diatur Pasal 368 ayat (1) KUHP diancam pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Selengkapnya ketentuan mengenai pengancaman di dalam KUHP, sebagai berikut: Pasal 368 (1) Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

(2) Ketentuan pasal 365 ayat kedua, ketiga, dan keempat berlaku bagi kejahatan ini.

Tags
Show More

Fatuni Zulaikha

Pada akhirnya nanti, semua yang pernah hilang atau diambil dari diri kita akan kembali lagi kepada kita. Walaupun dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close