Pendidikan

Inovasi Teknologi Diharapkan Jawab Tantangan Pendidikan di Masa Nadiem Makarim

Terpilihnya Nadiem Makarim, mantan CEO Gojek, menjadi perbincangan hangat semenjak Jokowi mengumumkan jajaran kementerian terbarunya. Seorang milenial yang masuk ke jajaran protokol pemerintahan menjadi angin segar dan harapan banyak orang akan membawa perubahan dalam pendidikan Indonesia. Namun, seperti apa sebenarnya pendidikan kita saat ini? Karena ternyata banyak sekali keresahan dalam dunia pendidikan Indonesia. PISA (Programme for International Student Assessment), lembaga yang mengevaluasi sistem pendidikan negara negara di dunia, melaporkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat 62 dari 72 negara yang diteliti pada tahun 2015 sehingga Elizabeth Pisani yang merupakan seorang jurnalis New York Times menerbitkan artikelnya dengan judul “Indonesian Kids Don’t Know How Stupid They Are” yang jika diterjemahkan menjadi “Anak–anak Indonesia Tidak Tahu Betapa Bodohnya Mereka”.

Profesor Lant Pritchett dari Harvard University membuat suatu penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa untuk mengejar ketertinggalan, anak anak di Jakarta membutuhkan waktu 128 tahun agar bisa setara dengan anak anak di negara maju. Untuk anak anak di Jakarta saja, dengan akses pendidikan yang cukup baik, mereka masih membutuhkan waktu 128 tahun untuk mengejar ketertinggalannya. Bagaimana dengan daerah–daerah terluar yang kualitas pendidikannya tidak sebaik di Jakarta karena akses pendidikan yang sangat minim? Wow sekali bukan? “Mau tidak mau, dengan 300 ribu sekolah dan 50 juta murid, mau tidak mau peran teknologi akan sangat besar di dalam kualitas, efisiensi, dan administrasi sistem pendidikan yang merupakan sistem terbesar ke 4 terbesar di dunia,” ujar Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI terpilih.

Dengan angka yang begitu besar dan belum lagi ditambah mereka yang putus sekolah maupun yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah formal, tantangan pendidikan di Indonesia makin besar. Keprihatinan akan hal ini menggugah Syaiful Lokan yang sudah berpengalaman membangun sekolah sekolah di daerah untuk membuat sebuah inovasi pendidikan yang mengintegrasikan teknologi. ICANDO, sebuah aplikasi belajar untuk pendidikan masa depan yang mengedepankan penguasaan keterampilan hidup anak–anak mulai persiapan SD. Dengan mengusung konsep Game based Education, ICANDO menjadi sebuah aplikasi belajar yang menyenangkan yang bahkan anak tidak sadar kalau mereka sedang belajar sehingga proses belajar menjadi bermakna. Sekarang ICANDO sudah tersedia di Google Play Store dan sudah diunduh oleh lebih dari 10,000 pengguna. Dengan mudahnya akses dan konten dengan standar Kurikulum Nasional, semua anak – anak Indonesia dari kota besar seperti Jakarta sampai pelosok Jawa Tengah bahkan Sorong mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Hal ini menjawab keresahan akses pendidikan di Indonesia. “Aplikasi ini hadir sebagai aplikasi masa depan untuk mengatasi masalah pendidikan di era digital dengan cara yang smart dan memanfaatkan teknologi yang ada. Berangkat dari keprihatinan kita atas terpuruknya kualitas pendidikan Indonesia yang dilihat dari hasil PISA di mana anak–anak Indonesia sangat baik dalam kemampuan mengingat, namun kurang dalam kemampuan analisis hingga membuat. Jadi ICANDO kami kembangkan melalui berbagai riset sehingga mampu menumbuhkan keterampilan–keterampilan yang dibutuhkan anak–anak ini di masa depan seperti budi pekerti melalui video, berpikir kritis melalui gameplay yang menunjang, serta keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung” jelas Malasari selaku Head of Curriculum Developer ICANDO.

Tidak hanya itu, ICANDO juga dilengkapi dengan film pendek yang fokus pada pendidikan karakter dan bukan video penyampaian materi. Karena fakta riset membuktikan bahwa pembelajaran materi berbasis video hanya memiliki impact sebesar 5 persen dan bahkan tidak ada peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Sedangkan pendidikan karakter adalah hal yang harus ditekankan dalam pendidikan yang mulai dari anak–anak jenjang SD. Hal ini terbukti menjawab keresahan orang tua dan guru yang sulit mengajarkan anaknya kebiasaan baik seperti mencuci tangan dan menggosok gigi. “Susah sekali menyuruh anak saya menggosok gigi. Harus berantem dulu. Tapi semenjak belajar dengan ICANDO, malah anak saya yang ngajarin cara gosok gigi yang benar,” ungkap Citra, Jakarta, yang merupakan seorang guru PAUD dan Ibu dari anak usia 3 tahun. Berbicara tentang Pendidikan dan Teknologi, konten dan video sarat budi pekerti mungkin saja tidak cukup. ICANDO juga diperlengkapi dengan fitur–fitur teknologi terkini seperti instant feedback, voice recognition , dan handwritten recognition sehingga anak–anak dapat menemukan pengetahuannya sendiri.

Ayo cari tahu lebih banyak tentang ICANDO di dan unduh di Google Play Store . #NadiemMakarim #ICANDOApp

Tags
Show More

Fatuni Zulaikha

Pada akhirnya nanti, semua yang pernah hilang atau diambil dari diri kita akan kembali lagi kepada kita. Walaupun dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close