Bisnis

Industri Perbankan Sambut Positif Relaksasi OJK Dapat Tekan NPL

Perbankan mengklaim wabah virus corona belum berdampak terhadap penurunan kualitas kredit dalam dua bulan pertama tahun ini. Namun, bank sudah melakukan antisipasi risiko kredit sejak awal wabah itu merebak. Royke Tumilaar, Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan melakukan restruktrurisasi dengan memperpanjang waktu kredit dan mengubah proses terhadap debitur debitur di sektor yang terdampak langsung dari virus tersebut. Menurutnya, perbankan memang tidak boleh berdiam diri saja saat ini meskipun belum ada kredit macet. "Sejauh ini memang belum ada yang mendorong kenaikan kredit macet. Tapi action sudah harus diambil. Walau belum ada kredit macet, kita sudah antisipasi," kata Royke di Jakarta, Kamis (5/2/2020).

Senada, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) juga belum merasakan dampak virus corona terhadap penurunan kualitas kredit. Namun, bank ini sudah memperkuat manajemen risiko dalam menghadapi dampak virus corona ke depan. Sunarso, Direktur Utama BRI mengakui bahwa virus tersebut memang jadi tantangan bagi perbankan. Hanya saja, menurutnya, kondisi seperti ini bukan yang pertama kali dihadapi perbankan. Bank BRI sudah melakukanstress testsehingga BRI lebih siap dalam menghadapi dampaknya. Ia menyakini tekanan virus tersebut terhadap perbankan tidak akan signifikan dengan antisipasi yang sudah dilakukan ditambah dengan langkah cepat regulator baik BI dan OJK memberikan kebijakan untuk menangkal dampak negatif dari wabah itu.

Seperti diketahui, BI telah mengeluarkan kebijakan sebagai antisipasi terhadap dampak corona dengan melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM). Sementara OJK memberikan tiga stimulus bagi perbankan terkait penilaian kualitas kredit. Pertama, perbankan cukup menggunakan aspek ketepatan pembayaran untuk menilai kualitas kredit untuk eksposur maksimum Rp 10 miliar yang terdampak penyebaran corona. Keduamelonggarkan aturan restrukturisasi kredit.Ketiga, relaksasi ini akan diberlakukan hingga setahun ke depan.

"Pelonggaran GWM memberikan peningkatan likuiditas bagi bank. Dengan ini bank didorong menerapkan biaya rendah untuk jaga kualitas agar tidak meningkatkan risiko kredit. Kolaborasi kebijakan ini merupakan cara untuk jaga pertumbuhan GDP," kata Sunarso. Hari ini, Kamis (5/3/2020), pelaku industri perbankan melakukan pertemuan dengan regulator (BI & OJK) dan pemerintah (Kementerian Keuangan dan Menko Perekonomian) di kantor OJK membicarakan bagaimana stimulus dari pemerintah dan regulator keuangan bisa langsung ditransmisikan sehingga dampaknya bisa segera dirasakan masyarakat. Sebagaimana diketahui stimulus yang diberikan regulator yakni relaksasi pengaturan penilaian kualitas asset kredit dengan plafon sampai dengan Rp 10 Miliar hanya didasarkan pada satu pilar yaitu ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga, terhadap kredit yang telah disalurkan kepada debitur di sektor yang terdampak penyebaran virus corona (sejalan dengan sektor yang diberikan insentif oleh Pemerintah).

Sebelumnya penilaian kualitas kredit debitur didasarkan pada tiga pilar yakni ketepatan pembayaran pokok/ bunga, prospek usaha debitur, dan kondisi keuangan debitur. Selain itu, OJK juga merelaksasi pengaturan restrukturisasi kredit yang disalurkan kepada debitur di sektor yang terdampak penyebaran virus corona (sejalan dengan sektor yang diberikan insentif oleh Pemerintah). Relaksasi pengaturan ini akan diberlakukan sampai dengan 1 (satu) tahun setelah ditetapkan, namun dapat diperpanjang bila diperlukan.

"Perbankan rerpon positif karena dengan sektor riil diberi pelonggaran dalam perhitungan kolektibilitas dia tetap bisa teruskan pinjaman. Ini jadi ruang positif bagi perbankan karena kalau (tidak direlaksasi) dia akan bentuk cadangan NPL lebih banyak," ucap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Berita ini tayang di Kontan dengan judul:

Tags
Show More

Fatuni Zulaikha

Pada akhirnya nanti, semua yang pernah hilang atau diambil dari diri kita akan kembali lagi kepada kita. Walaupun dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close