Nasional

Hasto Kristiyanto Hadir di Lokasi Rakernas PDIP 2 Stafnya Terseret Kasus Dugaan Suap Komisioner KPU

Di tengah pemberitaan dugaan suap oleh Caleg PDIP kepada Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Sekretaris Jenderal PDIP tampak hadir di JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (9/1/2020). Sebelumnya dua staf Hasto Kristiyanto disebut sebut terseret kasus dugaan suap tersebut. Hasto Kristiyanto yang mengenakan celana jeans, polo shirt merah, dibalut jaket hitam hadir meninjau sejumlah persiapan Rakernas.

Hasto kristiyanro mendatangi meja registrasi peserta Rakernas di gedung Hall B, B1. "Yang daftar sudah berapa banyak," tanya Hasto. "Ini pendaftaran manual pak, di sini absen, lalu ambil id di ruangan sebelah," jawab seorang panitia.

Hasto lalu masuk ke dalam ruangan Rakernas yang sedang melangsungkan gladi bersih. Di tempat tersebut Hasto sempat bertemu politikus PDIP Rieke Diah Pitaloka. Setelah itu, Hasto menuju tenda organisasi sayap partai Baguna yang terletak di pelataran parkir.

Di tenda tersebut Hasto sempat mencicipi makanan yang dimasak bagian dapur umum. Menu yang dijajajakan diantaranya telor serta gorengan. Usai makan, Hasto langsung meninggalkan lokasi Rakernas.

Kepada wartawan Hasto mengatakan bahwa tidak bisa datang pada siang hari karena rumahnya kebanjiran. Untuk diketahui sebelumnya Hasto dijadwalkan akan meminum jamu tradisional di lokasi Rakernas pada pukul 12.00 Wib. "Ini Harusnya minum jamu, namun karena rumah saya kebanjiran, mobil dua tenggelam, terkena diare, jadi tidak bisa ikut acara minum jamu," katanya. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membenarkan kabar ruang kerjanya di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, hampir digeledah KPK.

Hal itu menyusul beredarnya kabar jika dua staf Hasto Kristiyanto terseret Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap komisioner KPU Wahyu Setiawan. "Berdasarkan laporan Kepala Sekretariat dari PDIP jadi memang datang beberapa orang," kata Hasto Kristiyanto di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (9/1/2020). Namun, kata Hasto, karena tanpa surat dan bukti yang lengkap, penggeledahan tidak jadi dilakukan.

"Tanpa bermaksud menghalang halangi, apa yang dilakukan di dalam pemberantasan korupsi yang kami harapkan adalah sebuah mekanisme adanya surat perintah dan begitu itu dipenuhi ya tentu saja seluruh jajaran PDIP sebagaimana kami tunjukkan kami selama ini membantu kerja dari KPK," katanya. Lebih lanjut, ia memastikan tidak ada penyegelan terhadap Kantor DPP PDIP. Ia menyatakan PDIP mendukung pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK.

"Informasi terhadap penggeledahan terhadap adanya penyegelan itu tidak benar tetapi kami tahu bahwa KPK terus mengembangkan upaya upaya melalui kegiatan penyelidikan pasca operasi tangkap tangan tersebut. Sikap partai adalah memberikan dukungan terhadap hal itu," katanya. Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita barang bukti berupa uang. Dalam aksi senyap tersebut, KPK pun mencokok sejumlah pihak lainnya yang terkait kasus dugaan suap terhadap Wahyu Setiawan.

KPK mengamankan barang bukti berupa uang dalam bentuk mata uang asing. "BB (barang bukti) berupa uang, mata uang asing," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Kamis (9/1/2020). Meski demikian, Ali mengaku belum mengetahui secara pasti nominal uang yang disita penyidik KPK.

Dikatakan, tim saat ini masih menghitung uang tersebut dan mengonfirmasinya kepada delapan orang yang kini sedang diperiksa intensif, termasuk Wahyu Setiawan. Ali berjanji akan menyampaikan secara rinci mengenai OTT tersebut dalam konferensi pers hari ini pukul 19.00 WIB. "Nanti kepastian jumlahnya akan disampaikan dalam konferensi pers," katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar membenarkan barang bukti uang dalam pecahan asing. Jika dikonversi uang tersebut berjumlah sekitar Rp400 juta. "Ya dalam mata uang asing. Sepertinya kisaran Rp400 juta kalau dirupiahkan," ujar Lili.

Berdasar informasi, dari delapan orang yang diamankan terdapat seorang politikus dan calon anggota legislatif (caleg) dari PDIP berinisial HM. Para pihak, termasuk Wahyu dan HM serta sejumlah pihak lain diringkus lantaran diduga terlibat transaksi suap berkaitan dengan Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPR. "Suap terkait PAW," kata seorang sumber.

HM merupakan caleg PDIP untuk DPR pada Pileg 2019 dari daerah pemilihan Sumatera Selatan I nomor urut 6. Dapil tersebut meliputi Kota Palembang, Kota Lubuklinggau, Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara. Namun dalam Pileg 2019, Harun tak terpilih menjadi anggota DPR.

KPU menetapkan Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. PDIP dalam rapat pleno KPU 31 Agustus 2019 sempat meminta KPU mencoret Riezky dari daftar anggota DPR terpilih dan mengajukan nama Harun. Namun, KPU menolaknya.

Wahyu kemudian diduga melobi Harun supaya dapat duduk di DPR. Meski demikian Lili belum dapat menjelaskan lebih detail terkait peruntukan uang dugaan suap tersebut. Pun termasuk mengungkap identitas pihak yang telah diamankan.

"Nanti akan disampaikan dalam konpers," kata Lili.

Tags
Show More

Fatuni Zulaikha

Pada akhirnya nanti, semua yang pernah hilang atau diambil dari diri kita akan kembali lagi kepada kita. Walaupun dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close