Sains

Danau Terpencil di India Utara Dipenuhi Puluhan Kerangka Manusia, Seperti Apa Penjelasannya?

Danau Roopkund di India Utara dikenal juga dengan nama Danau Kerangka. Bukan tanpa alasan, hal itu karena Danau Roopkund memang dipenuhi dengan puluhan kerangka manusia di dalamnya. Misteri itu bermula pada 1942, ketika seorang pemandu wisata asal Inggris tanpa sengaja tersandung kerangka manusia di danau tersebut.

Para ahli pun kesulitan memahami bagaimana bisa puluhan kerangka manusia bisa berada di danau glasial yang kecil dan dangkal itu. Padahal, Danau Roopkund terletak di lembah dengan ketinggian 16.000 meter di atas permukaan air laut. Dikutip dari Nationalgeographic.co.id, Jumat (13/9/2019), sudah selama bertahun tahun beragam teori muncul terkait ditemukannya puluhan kerangka manusia di Danau Roopkund.

Begitu juga tentang kapan dan bagaimana kerangka kerangka itu bisa sampai ke Danau Roopkund. Pertama, ada teori yang mengatakan kerangka kerangka itu merupakan kerangka tentara Jepang yang mati saat melintasi pegunungan Himalaya di masa Perang Dunia II. Namun teori itu dipatahkan karena usia kerangka kerangka itu sudah terlalu tua.

Versi lain mengatakan kerangka kerangka itu disebabkan karena adanya bencana alam, wabah penyakit, atau ritual pengorbanan massal. Sementara versi teori yang paling kuat adalah adanya badai hujan es dahsyat yang tiba tiba menyerang sekelompok peziarah. Bola bola es kemudian menghantam kepala dan pundak mereka.

Analisis DNA dan penanggalan radiokarbon juga telah memberikan secercah petunjuk atas misteri itu. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada Nature Communications, sekelompok peneliti menghubungkan 38 kerangka yang ditemukan di danau dari tiga kelompok berbeda. Ada 23 pria dan wanita keturunan Asia Selatan, 14 kerangka dengan gen yang terkait wilayah Mediterania Timur, dan satu individu dengan DNA Asia Tenggara.

Ketika para ilmuwan menelitinya, kerangka keturunan Asia Selatan diperkirakan berasal dari tahun 800 an Masehi. Namun, kelompok Mediterania Timur dan Asia Tenggara jauh lebih muda, yakni sekitar tahun 1.800. Penemuan ini menegaskan bahwa hipotesis yang menyatakan bagaimana kerangka tersebut berakhir di Danau Roopkund akibat bencana, tidak dapat dibuktikan.

Sebab, mereka kemungkinan mati dalam waktu yang berbeda, bahkan terpisah seribu tahun. Meski begitu, hasil tes DNA sebelumnya dari masing masing kelompok kerangka di danau Roopkund, menunjukkan adanya hubungan keluarga atau suku. Dari luka kepala yang ditemukan pada kerangka dari tahun 800 an, ilmuwan menyimpulkan bahwa hujan dan badai es mungkin memang telah menewaskan seluruh anggota kelompok peziarah.

Teori ini secara mengejutkan telah mencerminkan legenda lokal yang menyatakan bahwa dewi gunung Nanda Devi mengirim badai es yang ganas untuk menghukum sekelompok peziarah yang menodai “tanah suci” dengan bermain musik dan menari. Namun, para peneliti masih memiliki beberapa pertanyaan terkait kelompok kedua yang berasal dari Mediterania. Pasalnya, wilayah tersebut tidak menganut agama Hindu.

“Apakah mereka juga ikut berziarah atau terbawa ke Danau Roopkund karena alasan lain, masih menjadi misteri,” tulis para peneliti. Investigasi selanjutnya akan berfokus pada penelitian arsip, yang bertujuan untuk menemukan laporan penting dari sebagian besar wisatawan asing yang meninggal di Himalaya dalam beberapa abad terakhir. Mengingat danau Roopkund membeku hampir sepanjang tahun dan hanya dapat diakses dengan perjalanan berhari hari ke Himalaya, para ilmuwan yakin masih banyak kerangka yang belum ditemukan.

<span> </span>

Tags
Show More

Fatuni Zulaikha

Pada akhirnya nanti, semua yang pernah hilang atau diambil dari diri kita akan kembali lagi kepada kita. Walaupun dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close